DIKSIPUBLIK, Bandar Lampung – Sejak awal 2025, Bayana memimpin Inspektorat Lampung dengan filosofi pengawasan yang berbeda. Jika sebelumnya institusi ini sering dianggap sebagai “pencari kesalahan”, di bawah kepemimpinannya paradigma berubah menjadi mitra strategis pemerintah daerah.
“Saya tidak punya dasar pengawasan,” ungkap Bayana saat mengikuti uji kompetensi di hadapan Dirjen Tomsi Tohir. Kejujuran ini menjadi fondasi perubahan, menekankan assurance atau penjaminan kualitas, bukan sekadar menemukan kesalahan.
“Inspektur menentukan baik-buruknya pemerintahan daerah. Kami harus menjadi mitra, mulai dari tahap perencanaan hingga pengambilan keputusan,” ujar Bayana, yang sebelumnya lama berkecimpung di dunia diklat di Ciawi.
Bagi Bayana, integritas internal adalah harga mati. Sebelum memperbaiki OPD lain, integritas internal Inspektorat harus bersih. APIP diperketat: No Korupsi, No Pungli.
Digitalisasi dan Si AWAS
Transformasi besar Bayana ditandai dengan peluncuran Si AWAS, platform digital yang memungkinkan pengawasan anggaran seluruh OPD secara real-time.
Fitur utama Si AWAS:
- Pendampingan Real-Time: Memberikan masukan sebelum terjadi kesalahan fatal.
- Transparansi Total: Menutup celah penyimpangan dan praktik “main mata”.
Hasilnya terlihat nyata. KPK memberikan Penilaian Hijau, menempatkan Lampung dalam 10 besar nasional dalam koordinasi pencegahan korupsi. BPKP juga mengapresiasi progres Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan (TLHP) yang mencapai 86 persen.
Irbansus: Tegas Mengawasi dan Menindak
Meski fokus pada pencegahan, Bayana tetap memiliki “taring” melalui Inspektur Pembantu Khusus (Irbansus). Sepanjang 2025, sebanyak 29 PNS dan 2 P3K diproses dan diberikan sanksi sesuai pelanggaran disiplin.
“Daftar pejabat yang masuk ke Lampung, jejaknya ada di kami. Rekomendasi juga harus dari Inspektorat,” tegas Bayana.
Terkait isu jual-beli jabatan, Bayana menegaskan setiap isu, termasuk keterlibatan pihak luar, akan ditindaklanjuti. Baginya, data dan bukti adalah panglima.
Pengabdian Menuju 2026
Melihat masa depan, Bayana menilai perannya bukan sekadar jabatan, tetapi pengabdian terakhir sebagai ASN. Ia ingin meninggalkan legacy pemerintahan yang clear and clean, terinspirasi dari disiplin ala Jepang.
“Tugas saya adalah menjaga Gubernur dan Pemerintah Provinsi, memastikan semua perangkat bekerja sesuai visi-misi tanpa melanggar aturan,” pungkas Bayana.










